UPDATE produk terbaru di Channel Telegram. Klik >>Gabung Sekarang< <

 

 

Orang-orang terutama di kota besar banyak yang tidak tahu apa makna di balik motif batik yang sedang dikenakannya. Jangankan memahami filosofis dan sejarahnya, mereka bahkan tak tahu nama motif batik tersebut dan dari daerah mana motif itu berasal. Apabila ditanya kenapa mereka pakai batik itu, mereka akan menjawab sederhana bahwa karena mereka suka dengan bentuk motif dan warnanya.

 

Tak hanya masyarakat umum, yang paling menyedihkan adalah hal ini juga terjadi pada para penyelenggara negara dan tokoh-tokoh yang jadi panutan masyarakat. Di era Presiden Joko Widodo, para menteri dan jajaran pejabat eselon di seluruh kementerian dan lembaga negara semakin giat memakai batik. Para public figure seperti artis dan olahragawan juga akrab dengan pakaian batik. Sayangnya, tidak semua dari mereka akan bisa menjawab dengan benar saat ditanya apa motif batik yang sedang dikenakannya.

 

Hal ini sangat ironis karena justru filosofi dan sejarah di balik motif itulah yang membuat batik menjadi budaya adiluhung bangsa Indonesia, bukan cuma bentuk dan warnanya. Setiap daerah punya motif batik yang spesifik dan kaya akan filosofi. Motif tersebut diciptakan sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Tak jarang juga ada cerita unik yang melatarbelakangi dibuatnya suatu motif batik.

 

Beberapa motif batik yang terkenal diantaranya adalah motif Truntum dari Surakarta yang bermakna bahwa orang tua memberi tuntunan, motif Kawung dari Yogyakarta yang melambangkan keperkasaan dan keadilan, motif Mega Mendung dari Cirebon yang berfilosofi bahwa manusia harus mampu meredam amarah/emosinya dalam situasi dan kondisi apapun, dan lain-lain. Motif-motif batik dari daerah lain seperti Pekalongan, Banyumas, Banten, Betawi, Madura, dan dari luar Jawa seperti Papua, Bali, Jambi dan sebagainya pun juga kaya akan nilai-nilai filosofis tentang kehidupan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *